Kegiatan Kami

Kegiatan Kami

Siapa Kami

MbangunDeso merupakan komunitas yang bergerak untuk memajukan daerah 3T (tertinggal, terluar dan terdepan) dengan mengangkat kearifan lokal daerah. Melalui komunitas ini kami mengajak masyarakat umum untuk dapat lebih mengenal daerah 3T melalui kegiatan Travelling and Empowering. Berwisata dengan cara yang berbeda. Bertamasya dengan cara yang lebih mengena. Berbeda karena kita sambil mengabdi, dan mengena karena lewat pengabdian kita akan ikut turut serta bertukar fikiran dan membantu masyarakat setempat dengan cara yang lebih dekat. Aku menunggumu disini dan ingin kuceritakan keindahan pulau ku, begitupula aku menunggu ceritamu untuk saling berbagi ilmu

Apa Saja Yang kita Lakukan ?

  • Pengenalan potensi lokal daerah 3T
  • Penggalangan dana untuk pendidikan daerah 3T
  • Gerakan literasi daerah 3T
  • Kelas Inspirasi daerah 3T
  • Pendampingan dan pengembangan kreasi produk kerajinan masyrakat 3T

Karena Kami adalah “Kita seluruh generasi muda Indonesia” yang mau bergabung, berkerjasama dan bahu membahu merubah daerah 3T menjadi daerah maju. Bermula dari SM3T (Sarjana mengajar didaerah 3T (terluar, terdepan dan tertinggal) kami tergerak untuk bersama sama memajukan daerah 3T (tertinggal, terluar dan terdepan) sebagai garda Indonesia.

Pemberdayaan Masyarakat Adat

Pemberdayaan Masyarakat Adat

Economy and education in 3T regions describe an opposite description toward metropolitan regions in Indonesia and needs special attention to grow balancely with other regions. MbangunDeso initiates to improve economy and education sectors in that region based social Enterpreneurship with blowing up local heritage. We empower indigenous people’s in southwest sumba to improve the productivites of traditional area. MbangunDeso Grow Up Together.

Siapa Kami ?

Siapa Kami ?

MbangunDeso merupakan komunitas yang bergerak untuk memajukan daerah 3T (tertinggal, terluar dan terdepan) dengan mengangkat kearifan lokal daerah. Melalui komunitas ini kami mengajak masyarakat umum untuk dapat lebih mengenal daerah 3T melalui kegiatan Travelling and Empowering. Berwisata dengan cara yang berbeda. Bertamasya dengan cara yang lebih mengena. Berbeda karena kita sambil mengabdi, dan mengena karena lewat pengabdian kita akan ikut turut serta bertukar fikiran dan membantu masyarakat setempat dengan cara yang lebih dekat. Aku menunggumu disini dan ingin kuceritakan keindahan pulau ku, begitupula aku menunggu ceritamu untuk saling berbagi ilmu

Apa Saja yang Kami Lakukan?

Apa Saja yang Kami Lakukan?

MbangunDeso mengajak masyarakat umum untuk mengembangkan daerah 3T melalui kegiatan Empowering and Travelling. Beberapa kegiatan pengabdian yang kami lakukan diantarannya Pengenalan potensi lokal daerah 3T, Pengembangan Ekonomi lokal daerah, Penggalangan dana untuk pendidikan daerah 3T, Gerakan literasi daerah 3T, Kelas Inspirasi daerah 3T, Pendampingan dan pengembangan kreasi produk kerajinan masyrakat 3T

Ayo Galang dana untuk kemajuan daerah 3T. Sedikit sumbangsih dari anda akan sangat bermanfaat bagi mereka.

 

Pasola merupakan salah satu seni yang dilakukan pada serangkaian upacar Adat di Sumba Barat Daya. Kesenian ini menjadi salah satu daya tarik bagi banyak wisatawan

Daerah 3T dikenal sebagai surganya budaya Nusantara. Dengan berkunjung kesana kita akan diajak kembali untuk menimati pesona Indonesia dengan Keanekaragaman kearifan lokal yang menarik untuk anda kunjungi

Tentang Pulau ku

Tentang Pulau ku

Selamat Pagi Indonesia,

Salam kami dari tapal batas NKRI Sumba Barat Daya.

Banyak orang yang mengatakan Sumba merupakan surga tersembunyi di Indonesia karena pesona alam dan kekayaan budaya nya. Namun ada pula yang mengatakan pulau kami ini merupakan salah satu pulau panas nan gersang. Terlepas dari itu semua, aku sangat mencintai sumba. Sejak aku kecil aku dibesarkan di pulau yang dikenal sebagai pulau seribu kampung adat ini. Ya memang di pulau kami ini terdapat banyak sekali kampung adat yang sangat menarik. Perpaduan antara adat istiadat dan peradaban modern yang berjalan beriringan menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Hal ini menjadi angin segar bagi masyarakat setempat ditengah perekonomian daerah yang kurang berkembang. Pendapatan yang orang tua kami dapatkan melalui hasil bercocok tanam, beternak ataupun dari hasil berjualan kain tenun kadang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan kami sehari-hari termasuk untuk membiayai kami agar dapat mengenyam pendidikan. Namun, cita -cita tetap akan ku pegang dan aku tidak akan menyerah, karena aku tau, aku punya banyak saudara di negeri surga indonesia tercinta.

Salam hangat kami dari tapal batas NKRI. Let’s come join Us , Let’s Join Ayo Mengabdi. Aku menunggumu disini dan ingin ku ceritakan keindahan pulau ku, begitupula aku menunggu ceritamu untuk saling berbagi ilmu

 

Menyapa Tanah Marapu “SUMBA”

Menyapa Tanah Marapu “SUMBA”

Tak kenal maka tak sayang, tapi bukan untuk adek-adek kita anak-anak “Marapu Sumba”. Bagi mereka kenal tak kenal tidak ada alasan untuk tidak saling menyayangi. Disini kita saling berbagi cerita dan isnpirasi. Semangat dan antusiasme begitu terpancar dalam wajah mereka. Keyakinan akan cita-cita dan tujuan yang mereka miliki telah membimbing mereka untuk terus berjuang jauh kedepan, menghidupkan kembali beribu-ribu semangat yang kadang hampir padam. 🌈🌈😇😇 Merekalah generasi penerus bangsa, pejuang tangguh dan garda masa depan untuk daerah 3T.
Lokasi lahir kita boleh dimana saja, namun lokasi mimpi haruslah di langit (Anies Baswedan)
Karena selama masih ada TEKAD yang terpelihara dalam SEMANGAT , maka tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu hal yang baru.
Salam kami dari barisan timur Indonesia. Salam Hangat Kami dari Tapal Batas NKRI

Kampung Adat Sumba

Kampung Adat Sumba

Empowering and Travelling

Banyak cara untuk mengenal lebih dekat berbagai kearifan lokal daerah di Negeri ini. Begitu banyak budaya dan keanekaragaman yang  unik dan menarik. Siapa bilang jika kebudayaan itu sudah mulai luntur. Disini kami dari Tapal Batas Negeri dapat dengan mudah menikmati dan begitu dekat dengan mereka, iya mereka “Para Pejuang Budaya”, yang dengan bangga mempertahankan kebudayaan dan kearifa lokalnnya ditengah kemajuan peradaban. Tertarik unuk mengenal lebih dekat dengan mereka, Let’s Join MbngunDeso, Let’s Join Empowering and Travelling

Ayo Mengabdi “Kampung Adat Wainyapu”

Ayo Mengabdi “Kampung Adat Wainyapu”

“Ayo Mengabdi” merupakan kegiatan pengabdian masyarakat lintas disiplin ilmu yang terbuka untuk umum. Pengabdian akan dilakukan di 3 Kampung adat Sumba Barat Daya yaitu kampung adat Ratenggaro, Kampung adat Wainyapu, kampung adat Bondo kampumbu pada tanggal. 7-10 Juli 2017. Setiap peserta dapat memilih lokasi pengabdian di salah satu kampung adat tersebut. Kegiatan pengabdian yang dilakukan meliputi pemberdayaan masyarakat untuk mengolah potensi lokal daerah,  pengabdian dalam bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, pelestarian lingkungan dan sosial budaya.

Kampung Wainyapu

Kampung Adat Wainyapu merupakan sebuah kampung adat yang terletak di tepi pantai selatan kabupaten kodi, Sumba Barat Daya, berjarak sekitar 63 km dari Kota Tambolaka dan dapat ditempuh melalui jalur darat. Kampung Wainyapu menjadi salah satu Kampung Adat yang menarik untuk dikunjungi karena keindahan alam dan kebudayaan masyarakat setempat yang masih memegang kepercayaan marapu serta memelihara adat istiadat leluhur. Terdapat 60 unit rumah adat (Uma Kalada) yang masih terjaga keasliannya dan ±1.058 batu kubur megalit unik yang sudah tidak dapat dijumpai di sebgaian daerah dengan peradaban maju. Pemandangan elok tepi pantai dengan deretan rumah adat yang menjulang ke awan menajdi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan termasuk akpal pesiar untuk singgah menepi melihat keindahahan kampung adat wainyapu yang terletak di tepi pantai ini. Daya tarik lain dari kampung ini adalah pemandangan indah yang akan memukau setiap pengunjung dengan deretan rumah adat karena letaknya yang berada ditepi pantai letaknya yang berada tepat di tepi pantai dengan wainyapu dan menjadi pemandangan unik dengan pesona alam dibalik pepohonan yang menampakkan menara – menara atap rumah adat yang menjulang tinggi. Sebagaian besar masyarakat dikampung ini bermatapencaharian sebagai petani dengan pendapatan yang tidak menentu.

CLICK HERE FOR REGISTRATION

 

Ayo Mengabdi “Kampung Adat Ratenggaro”

Ayo Mengabdi “Kampung Adat Ratenggaro”

Detail Kegiatan

“Ayo Mengabdi” merupakan kegiatan pengabdian masyarakat lintas disiplin ilmu yang terbuka untuk umum. Pengabdian akan dilakukan di 3 Kampung adat Sumba Barat Daya yaitu kampung adat Ratenggaro, Kampung adat Wainyapu, kampung adat Bondo kampumbu pada tanggal. 7-10 Juli 2017. Setiap peserta dapat memilih lokasi pengabdian di salah satu kampung adat tersebut. Kegiatan pengabdian yang dilakukan meliputi pemberdayaan masyarakat untuk mengolah potensi lokal daerah,  pengabdian dalam bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, pelestarian lingkungan dan sosial budaya.

Kampung Adat Ratenggaro

Ratenggaro merupakan salah satu kampung adat yang sangat terkenal keindahannya dengan hamparan pasir putihnya yang akan memanjakan mata kepada setiap pengunjung. Secara geografis kampung adat ratenggaro bersebelahan dengan kampung adat wainyapu yang juga terletak di pinggir pantai dan muara sungai Waiha, terletak ± 56 km dari kota Tambolaka. Kampung adat ratenggaro memiliki keunikan pada rumah adat nya (Uma Kelada) yaitu dengan menara yang menjulang tinggi mencapai 15 meter. Hal ini berbeda dengan rumah-rumah adat di kampung lain yang tinggi menaranya hanya mencapai 8 meter. Ratenggaro memiliki arti Kubur Garo, menjadi sangat terkenal karena keunikan budaya dan adat masyarakat nya, diantaranya keberadaan 304 buah kubur batu dan 3 diantaranya berbentuk unik yang terletak dipinggir laut dan merupakan kuburan bersejarah. Masyarakat dikampung ini masih mempraktekkan tradisi Marapu dan adat istiadat peninggalan leluhur seperti kampung – kampung lain pada umumnya yang ada di kabupaten Sumba Barat Daya. Kampung Ratenggaro menjadi salah satu destinasi bagi para wistawan baik nasional ataupun internasional, selain itu kampung Adat Ratenggaro menjadi kampung adat yang sering didatangi oleh kapal pesiar. Sektor pariwisata menjadi salah satu potensi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat yang rata-rata masih rendah. Mata pencaharian sebagian besar masyarakatnya adalah sebagai petani dan pengrajin tenun sekaligus pedagang.

CLICK HERE FOR REGISTRATION

 

Ayo mengabdi “Kampung Adat Bondo Kapumbu”

Ayo mengabdi “Kampung Adat Bondo Kapumbu”

Detail Kegiatan

“Ayo Mengabdi” merupakan kegiatan pengabdian masyarakat lintas disiplin ilmu yang terbuka untuk umum. Pengabdian akan dilakukan di 3 Kampung adat Sumba Barat Daya yaitu kampung adat Ratenggaro, Kampung adat Wainyapu, kampung adat Bondo kampumbu pada tanggal. 7-10 juli 2017. Setiap peserta dapat memilih lokasi pengabdian di salah satu kampung adat tersebut. Kegiatan pengabdian yang dilakukan meliputi pemberdayaan masyarakat untuk mengolah potensi lokal daerah,  pengabdian dalam bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, pelestarian lingkungan dan sosial budaya.

Kampung Adat Bondo Kapumbu

Kampung adat Bondo Kapumbu ini memiliki keunikan dimana terdapat pelataran batu berukuran 10 x 10 m2 terletak di tengah kampung yang berfungsi sebagai mesbah tempat berlangsungnya ritual adat Marapu yang dilakukan oleh para rato (imam) adat. Masyarakat di kampung ini masih mempertahankan tradisi adat istiadat masa lalu yang dilakukan secara turun temurun dari jaman nenek moyang, sehingga sampai saat ini masih dapat di jumpai nama – nama suku yang mendiami kampung ini dengan status dan kedudukannya di dalam kampung. Kampung adat ini terletak di perbukitan yang menyajikan pemandangan alam yang bebas dan sejauh mata memandang. Rumah adat (Uma Kalada) yang ada di kampung ini berjumlah 19 buah dan terdapat 135 kubur batu tua dengan berbagai ukuran, benda – benda kuno peninggalan nenek moyang juga masih tersimpan di kampung ini seperti Tempayan botol, Senapan dari jaman dahulu, Mamoli dan masih banyak lagi yang lainnya. Sebagian besar masyrakat kampung adat bondo kapumbu bermatapencaharian sebagai petani dan peternak dengan pendapatan yang masih rendah.

CLICK HERE FOR REGISTRATION

Pengrajin Tenun Sumba

Pengrajin Tenun Sumba

Economy and education in 3T regions describe an opposite description toward metropolitan regions in Indonesia and needs special attention to grow balancely with other regions. MbangunDeso initiates to improve economy and education sectors in that region based social Enterpreneurship with blowing up local heritage. We empower indigenous people’s in southwest sumba to improve the productivites of traditional area. MbangunDeso Grow Up Together.

Literasi Tanah Marapu

Literasi Tanah Marapu

Kondisi pendidikan di Indonesia yang masih belum merata menjadikan sekelompok pemuda yang tergabung dalam komunitas MbangunDeso untuk turut andil dalam pembangunan dunia pendidikan melalui distribusi buku untuk area 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Program pembentukan taman baca yang dikemas dengan program “Gerakan Literasi” untuk daerah 3T ini dilaksanakan di Kabupaten Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur pada tanggal 7 — 12 Juli 2017.

“Tentu saya merasa ini adalah sebuah tantangan tersendiri bagi saya untuk mengajar di daerah 3T. Saya dan adik-adik memiliki kendala awal dalam berbahasa karena tidak semua anak-anak mengerti bahasa Indonesia” terang Suci Wahyuni salah satu relawan MbangunDeso dari Lombok.

Program ini adalah program tahap awal dari gerakan literasi, program ini akan terus berlanjut dengan legalisasi taman baca yang sudah didirikan dan pengiriman buku beserta alat peraga sekolah secara berkala. Harapannya melalui program gerakan literasi ini, pemerataan pendidikan dapat tercapai dan setiap anak Indonesia bisa menikmati pendidikan yang sama (Ikbar Al Asyari).

MbangunDeso memperkenalkanku dengan kampung adat  yang mempunyai banyak potensi dan keunikan untuk dikembangkan

“Dewi Dianing Tyas”

MbangunDeso mengajak kita untuk mengenal lebih dekat kampung adat , yuk dukung gerakan MbangunDeso @volunteer mbangundeo

“Nur Amin”

yang unik yang etnic hanya bisa ditemukan di MbangunDeso. Let’s Come join MbangunDeso

“Tyas Widianingsih”